Luwak sama dengan musang atau careuh dalam bahasa sunda adalah hewan yang sangat menyukai biji kopi terbaik biasanya yang dipilih adalah biji yang benar - benar sudah merah ranum
Paradoxurus hermaphroditus merupakan nama ilmiahnya beberapa penamaan hewan ini cukup bervariasi seperti musang pulut di Malaysia, luak/luwak di Jawa atau careuh bulan di Sunda
adapun sebutan musang saja tanpa sambungan kalimat lain merupakan panggilan yang umum di Indonesia terutama oleh masyarakat Betawi
| Kingdom | Animalia |
| Filum | Chordata |
| Kelas | Mamalia |
| Ordo | Carnivora |
| Famili | Viverridae |
| Genus | Paradoxurus |
| Species | Paradoxurus Hermaphroditus |
Habitat Dan Populasi Sebarannya
Berdasarkan hasil penelitian jumlah hewan luwak ada terdapat sekitar 65 subspicies di dunia ini, tapi secara umum, jenis musang ini dapat dibedakan menjadi tiga spesies sebagai berikut :
- Musang atau Civet Palm Asia (Paradoxurus hermaphroditus
- Musang Cokelat Jerdoni (Paradoxurus jerdoni)
- Musang Emas (Paradoxurus zeylonensis
Hewan ini banyak dijumpai mulai dari hutan primer di ketinggian 2.000 meter dpl (di atas permukaan laut) hingga hutan sekunder dan sekitar perkebunan.
Di beberapa lokasi yang terdapat pohon aren, dipastikan terdapat luwak yang hidup di lokasi tersebut. Pasalnya, luwak sangat menyukai buah aren.
Atau bahkan, sesekali masih dapat dijumpai di sekitar lingkung permukiman, khususnya lingkungan rumah yang masih terdapat banyak pepohonan.
Luwak ata musang sangat menyukai hewan peliharaan, seperti ayam, bebek, kelinci dan marmut. Selain itu, hewan ini juga menyukai buah-buah yang memiliki rasa manis, di antaranya :
- Pisang
- Pepaya
- Nangka
- Rambutan
Di Indonesia binatang luwak berada hampir di setiap provinsi dengan jumlah bervariasi. Berdasarkan data yang ada, sebaran populasi paling banyak terdapat di
Provinsi Sumatera Utara, Lampung Bali, Pulau Sumba, Pulau Lombok serta beberapa lokasi di Pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan
Provinsi Sumatera Utara, Lampung Bali, Pulau Sumba, Pulau Lombok serta beberapa lokasi di Pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan
Populasi luwak dinilai belum terlalu mengkhawatirkan, pasalnya, budi daya luwak atau musang ini sudah banyak dilakukan dan tidak untuk dimakan sehingga kelestariannya masih b isa terjaga.
Namun pemburuan populasi hewan ini juga harus diwaspadai. Hingga saat ini, belum terdengar pengembangbiakan melalui perkawinan secara khusus. Pengembangbiakan luwak terjadi melalui perkawinan alami yang terjadi di alam.
Luwak atau musang belum masuk di dalam undang-undang hewan yang harus dilindungi. Undang-undang yang berisikan mengenai hewan dilindungi yakni Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan no.461/Kpts-11/1999 tentang Penetapan Musim Berburu Jenis-jenis Satwa Buru di Taman Buru dan Areal Buru.
Pada masa mendatang, binatang ini diharapkan masuk ke dalam hewan yang tidak boleh diburu agar populasinya tetap terjaga
Melalui pendekatan sosial masyarakat, seperti penyuluhan budi daya diharapkan mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan populasi luwak.
Adanya peran pembudidayaan luwak diharapkan dapat mengimbangi berkurangnya populasi luwak akibat pemburuan.
Hingga saat ini, informasi data populasi dan sebaran luwak di Indonesia masih belum lengkap. Selain itu, kondisi aktual belum teridentifikasi, baik oleh pengusaha maupun akademisi
Luwak Sebagai Hewan Peliharaan
Luwak termasuk hewan nokturnal yang aktif pada malam hari. Hewan ini bersifat arboreal. Artinya, pandai memanjat dan dapat hidup di pepohonan
Beberapa jenis pakan yang dapat dikonsumsi luwak di antaranya buah-buahan yang berasa manis seperti buah aren, pepaya, pisang dan sawo. Sementara itu, jenis ternak yang disukai luwak di anaranya ayam, reptil kecil dan serangga
Fungsi ekologis luwak adalah sebagai agen permudaan hutan karena luwak memiliki sistem pencernaan yang kurang sempurna, ia hanya daapt mencerna jenis pakan daging dan buah.
Sementara itu, biji-bijian yang keras biasanya keluar kembali dari pencernaan berupa feses atau kotoran. Karena itu, kotoran berupa biji-bijian yang dimakan luwak seperti biji kopi umumnya menyebar dihampir seluruh tempat hidupnya
Berikut adalah beberapa fungsi dan manfaat yang bernilai ekonomi dari luwak :
- Sebagai media pengolahan untuk kopi luwak.
- Dagingnya diduga memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit asma
- Hormonnya dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan parfum
- Sebagai media untuk mempertahankan kelestarian dan keragaman hayati hutan
Parfum dari hormon luwak - Beberapa merk parfum yang terkenal banyak menggunakan bahan campuran dari hormon yang terdapat pada tubuh luwak. Hormon pada tubuh luwak mengandung komposisi kimia dan memiliki aroma yang sangat wangi. Hasil ekstrasi hormon yang dibuat parfum ini bernama civet musk
Saat ini, luwak atau musang dapat dijadikan sebagai salah satu hewan peliharaan. Hal ini ditandai dengan adanya komunitas pemelihara hewan ini sejak bayi (anakan) hingga dewasa. luwak dapat menjadi jinak apabila pemeliharaannya dilakukan mulai dari anakan.
Umur luwak dapat mencapai 15 tahun. Luwak dapat b eranak dari 3 hingga 6 ekor. Secara fisik anakan luwak memiliki panjang dari unjung kepala hingga ekor sekitar 43 cm. Sementara ukuran dewasa dapat mencapai hingga 92 cm dengan bobot 4,5 kg
Sumber hewan ini dapat ditemukan di pasar-pasar hewan. Harganya bervariasi mulai dari harga Rp. 200.000,- (anakan) hingga Rp. 2.000.000 (dewasa). Berikut adalah 2 hal yang menarik dari biantang luwak
- Keindahan bulunya yang lembut mengalahkan kelembutan bulu kucing
- Hewan ini tidak berbau bahkan sesekali mengeluarkan bau harum dari tubuhnya
Dalam teknis pemeliharaannya, ada salah satu yang harus diperhatikan, yakni jika seekor induk musang beranak, hewan ini memiliki sifat kanibal atau mau memangsa anaknya sendiri, karena itu kandang pemeliharaaanya harus dipisah
Sumber Kopi Luwak
Berdasarkan sumbernya, kopi luwak dapat dibedakan menjadi dua
- Kopi luwak yang berasal dari luwak liar (wild)
- Kopi luwak yang berasal dari luwak penangkaran (farmer)
Berdasarkan penelusuran di lapangan, jenis kopi luwak liar sangat sedikit tetapi beberapa penikmat kopi luwak mendefinisikan cita rasa dan aromanya lebih enak dibandingkan dengan kopi luwak yang berasal dari penangkaran.
Saat ini, kopi luwak yang paling banyak diproduksi adalah kopi luwak hasil penangkaran
Saat ini, kopi luwak yang paling banyak diproduksi adalah kopi luwak hasil penangkaran
Kopi Luwak Liar
Biji kopi hasil feses luwak yang ditemukan di hutan atau sekitar perkebunan kopi secara bebas. Kopi luwak yang berasal dari luwak liar relatif lebih baik.
Pasalnya, proses pemilihan buah kopi yang dikonsumsi luwak tidak dipaksakan sehingga proses tersebut berlangsung secara alami. namun, berhubung kebutuhan pasar kopi luwak liar yang terus meningkat, pemenuhan kebutuhan melalui kopi luwak liar menemui berbagai kendala
Contoh kendala yang terjadi jika feses luwak tidak segera ditemukan oleh "pencari" kopi luwak liar dalam waktu yang lama (berbulan-bulan), kualitas kopi luwak cenderung menurun. Pasalnya, feses tersebut berisiko terkontaminasi dari berbagai bakteri dan virus yang dapat merusak biji kopi luwak.
Pengalaman di lapangan, feses yang sudah terlalu lama bentuk sudah tidak utuh lagi, atau bahkan telah berwarna hitam dan berbau busuk. Kelemahan ini merupakan salah satu alasan sebagian orang untuk membudidayakan luwak sehingga hasil dari feses dapat dikontrol dan diolah sebelum feses tersebut rusak
Kopi Luwak Hasil Penangkaran
Merupakan metode solusi dari beberapa kelemahan metode kopi luwak liar. Metode kopi luwak hasil penangkaran telah diaplikasikan di PTPN XII yang memiliki ratusan ekor luwak yang dipelihara di berbagai perkebunan seperti
- Kebun Kayu Mas
- Kebun Kalisat Jampit
- Kebun di Blawan
- Pancur Angkrek
Berbagai perkebunan tesebut berada di wilayah Bondowoso, Jawa Timur sebuah industri skala menengah seperti di Jawa Barat, Lampung Barat dan Bali.
Di Kabupaten Karo dan kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera utara, petani dan pebisnis kopi sudah memulai beternak musang atau luwak untuk dijadikan sebagai penghasil kopi luwak
Hewan luwak dibudidayakan di suatu lokasi. Luwak yang dipelihara biasanya sudah dewasa berumur 1,5 tahun. Jika kita memeliharanya dari anakan (berumur sekitar tiga bulan atau lebih), luwak dapat mulai berproduksi setelah satu tahun berikutnya.
Perawatan atau pemeliharaan luwak dilakukan di dalam kandang. Setiap kandang diisi oleh satu ekor. Pemeliharaan luwak di antaranya
- Memberikan makan secara teratur
- Memandikan
- Memberikan vaksin
- Membersihkan vaksin
- Membersihkan Kandang
- Sesekali menyemprotkan disinfektan di setiap kandang
Setiap hari atau interval 2---3 hari, luwak diberikan pakan buah kopi yang sudah matang (berwarna merah) pada sore hari. Jumlah buah kopi 2-3 kg per ekor.
Setiap luwak tidak akan menghabiskan seluruh pakan yang diberikan. Luwak cenderung memilih "buah tertentu saja" menggunakan indera penciumannya yang sangat tajam. Pada esok harinya, hasil feses berupa "gumpalan" biji kopi sudah dapat dipanen



